Rabu, 18 Desember 2013

Dalam melakukan sebuah penelitan, kita membutuhkan sebuah metode. Kita bisa menggunakan metode penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Kita menggunakannya sesuai dengan kebutuhan suatu penelitian. Seperti saat menyusun skripsi.



Ada perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Apa saja Perbedaan Kualitatif Dan Kuantitatif? Berikut adalah tabel singkat perbedaan kedua metode penelitian ini.

Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan.

Sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.

Berikut adalah perbedaan kedua metode tersebut selengkapnya:

No
Kualitatif
Kuantitatif
1
Penelitian kualitatif disebut juga penelitian naturalistik, interpretatif, konstruktivis, naturalistik-etnografik, pendekatan fenomenologis dan penelitian dengan pola pencarian dari dalam
Penelitian kuantitatif disebut juga penelitan rasionalistik, fungional, positivisme, dan penelitan dengan pola pencarian kebenaran dari luar
2
memulai kegiatannya dengan konsep-konsep yang sangat umum, kemudian selama penelitian, konsep-konsep yang sangat umum itu diubah-ubah dan direvisi sampai bertemu dengan kesimpulan yang sangat kuat. Dengan kata lain, variabel ditemukan dan dirumuskan kembali, bukan di awal.
mengisolasi variabel-variabel dan kemudian menghubungkannya dalam hipotesis. Selanjutnya menguji hipotesis itu dengan data yang dikumpulkan.
3
variabel merupakan produk penelitian yang ditemukan kemudian.
variabel-variabel menjadi alat atau komponen utama dalam melakukan analisis
4
penelitian kualitatif menggunakan lensa besar dan menampak serta memperhatikan pola-pola saling berhubungan antara berbagai variabel yang sebelumnya belum pernah ditemukan. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan holistik, menyeluruh.
penelitian kuantitatif memandang melalui lensa kecil, melihat dan memilih serta memperhatikannya hanya beberapa buah variabel saja.
5
Penelitian kualitatif menjadikan peneliti sendiri sebagai instrumen penelitian untuk mengumpulkan data atau informasi. Peneliti diminta luwes dan mampu membuat atau memberikan pandangan sendiri atas hal-hal atau fenomena-fenomena yang dilihatnya.
penelitian kuantitatif menggunakan instrumen yang ditentukan terlebih dahulu, dan instrumennya sangat tidak fleksibel dan juga tidak reflektif yaitu tidak mengandung interpretasi.
6
penelitian kualitatif masalah penelitian tidak dapat di formulasikan secara jelas dan jawaban dari responden juga sangat kompleks, sehingga wawancara mendalam mungkin sangat efektif dalam pengumpulan data.
Penelitian kuantitatif menuntut jawaban yang pasti, jelas, tidak ambigu, dan oleh karena itu instrumen dalam bentuk kuesioner mungkin sangat tepat dalam pengumpulan data.
7
Penelitian kualitatif tertarik dengan konsep-konsep, bukan berapa kalinya sesuatu.
penelitian kuantitatif bermain dengan angka-angka, yaitu mengkuantifikasi sampel terhadap populasi, dan mengangkakan karakteristik variabel-variabel penelitian.

Nah, semoga informasi tentang Perbedaan Kualitatif Dan Kuantitatif di atas bermanfaat untuk Anda yang sedang melakukan penelitian. Terkadang cara membuat makalah juga membutuhkan sebuah penelitian, jadi penggunaan kedua metode di atas juga dibutuhkan.

A. Pengertian Konseling Kelompok
Konseling kelompok (group counseling) merupakan salah satu bentuk konseling dengan memanfaatkan kelompok untuk membantu, memberi umpan balik (feedback) dan pengalaman belajar.
B. Beberapa Pendekatan Kelompok
  1. Psikoterapi Kelompok
Psikoterapi kelompok merupakan bantuan yang diberikan oleh psikoterapis terhadap klien untuk mengatasi disfungsi kepribadian dan interpersonalnya dengan menggunakan interaksi emosional dalam kelompok kecil. Karena itu psikoterapi kelompok lebih memfokuskan pada ketidaksadaran, menangani pasien yang mengalami gangguan “neurotik” atau problem emosional berat lain, dan biasanya dilakukan untuk jangka panjang.
  1. Konseling Kelompok
Konseling kelompok merupakan kelompok terapeutik yang dilaksanakan untuk membantu klien mengatasi masalah yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Konseling kelompok mengatasi klien dalam keadaan normal, yaitu tidak sedang mengalami gangguan funsi-fungsi kepribadian. Pada umumnya konseling diselenggarakn untuk jangka pendek atau menengah.
  1. Kelompok Latihan dan Pengembangan
Kelompok latihan dan pengembangan merupakan pendidikan kesehatan mental dan bukan kelompok terapeutik. Tujuannya secara umum bersifat antisipatif dan pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya hambatan jika hal tersebut benar-benar alami.
  1. Diskusi Kelompok Terfokus
Diskusi kelompok terfokus (focus group discusion) merupakan kegiatan diskusi, tukar pikran beberapa orang mengenai topik-topik khusus yang telah disepakati oleh anggota kelompok. Peserta diskusi tidak harus memiliki masalah sebagaimana topik yang dibicarakan, tetapi ada minat untuk partisipasi dalam diskusi.
  1. Self-help
Self-help merupakan forum kelompok yang dijalankan oleh beberapa orang (sekitar 4-8 orang) yang mengalami masalah yang sama, dan mereka berkeinginan untuk saling tukar pikiran dan pengalaman sehubungan dengan cara mengatasi masalah yang dihadapi, dan cara mengembangkan potensinya secara optimal. Kelompok ini misalnya untuk kalangan alkoholik yang berkeinginan menghentikan kebiasannya, orang tua tanpa parner, dan sebagainya.
C. Tujuan Konseling
Konseling kelompok berfokus pada usaha membantu klien dalam melangkah melakukan perubahan dengan menaruh perhatian pada perkembangan dan penyesuaian sehari-hari, misalnya modifikasi tingkah laku, pengembangan keterampilan hubungan personal, nilai, sikap atau membuat keputusan karier (Gibson dan Mitchell, 1981).
Tujuan konseling kelompok pada dasarnya dibedakan menjadi dua, yaitu tujuan teoritis dan tujuan operasional. Tujuan teoritis berkaitan dengan tujuan yang secara umum dicapai melalui proses konseling, sedangkan tujuan operasional disesuaikan dengan harapan klien dan masalah yang dihadapi klien, kemudian dirumusakn secara bersama-sama antara klien dengan konselor (Pietrofesa dkk., 1978).
D. Manfaat dan Keterbatasan Konseling Kelompok
Pendekatan kelompok dikembangkan dalam proses konseling didasarkan atas pertimbangan bahwa pada dasarnya kelompok dapat pula membantu memecahkan individu atau sejumlah individu yang bermasalah. Wiener mengatakan bahwa interaksi kelompok memiliki pengaruh positif untuk kehidupan individual karena kelompok dapat dijadikan sebagai media terapeutik. Menurutnya interaksi kelompok dapat meningkatkan pemahaman diri dan baik untuk perubahan tingkah laku individual.
Selain itu terdapat berbagai keuntungan memanfaatkan kelompok sebagai proses belajar dan upaya membantu klien dalam pemecahan masalahnya antara lain:
1. Efisien. Konselor dapat menyediakan layanan untuk klien dalam jumlah yang banyak.
2. Konseling kelompok menyediakan konteks interpersonal sosial.
3. Klien memiliki kesempatan untuk mempraktekkan tingkah laku yang baru.
4. Memungkinkan klien untuk menempatkan permasalahan mereka dalam perspektif dan untuk memahami bagaimana persamaan dan perbedaannya satu sama lain.
5. Klien membentuk sistem yang mendukung untuk satu sama lain.
6. Klien dapat mempelajari kemampuan komunikasi interpersonal.
7. Klien diberi kesempatan untuk memberikan bantuan sebanding dengan ia menerima bantuan.
Namun demikian berbagai keuntungan itu tidak selalu diperolehnya, bergantung kepada ketepatan pemberian respon, kemampuan konselor mengelola kelompok, kesediaan klien mengikuti proses kelompok, kepercayaan klien kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses konseling.
Selain faktor-faktor keunggulan di atas, konseling kelompok juga memiliki beberapa keterbatasan. Secara singkat keterbatasan konseling kelompok sebagai berikut:
1. Setiap klien perlu berpengalaman konseling individual, baru bersedia memasuki konseling kelompok.
2. Konselor akan menghadapi masalah lebih kompleks pada konseling kelompok dan konselor secara spontan harus dapat memberi perhatian kepada setiap klien.
3. Kelompok dapat berhenti karena masalah “proses kelompok”.
4. Kekurangan informasi individu yang mana yang lebih baik ditangani dengan konseling kelompok dan yang mana yang sebaiknya ditangani dengan konseling individual.
5. Seseorang sulit percaya kepada anggota kelompok, akhirnya perasaan, sikap, nilai, dan tingkah laku tidak dapat di”bawa” ke situasi kelompok.
Jika dilihat dari sisi kliennya konseling kelompok tidak cocok untuk klien yang karakteristiknya sebagai berikut:
1. Dalam keadaan kritis.
2. Menganggap masalahnya bersifat konfidensial dan penting untuk dilindungi.
3. Sedang dalam penginterpretasian tes yang dihubungkan dengan self-concept.
4. Memiliki ketakutan bicara yang luar biasa.
5. Benar-benar tidak efektif dalam keterampilan berhubungan interpersonal.
6. Memiliki kesadaran yang sangat terbatas.
7. Klien mengalami penyimpangan seksual.
8. Klien membutuhkan perhatian yang sangat besar dan terlalu besar jika diselenggarakan dalam bentuk konseling kelompok.
E. Struktur dalam Konseling Kelompok
Konseling kelompok memiliki struktur yang sama dengan terapi kelompok pada umumnya. Struktur kelompok yang dimaksud menyangkut orang yang terlibat dalam kelompok, jumlah orang yang menjadi partisipan, banyak waktu yang diperlukan bagi suatu terapi kelompok, dan sifat kelompok (Corey, 1995; Gazda, 1989; Ohlen, 1977; dan Yalom, 1975).
1. Jumlah Anggota Kelompok
Sebagaimana terapi kelompok interaktif, konseling kelompok umumnya beranggota berkisar antara 4 sampai 12 orang. Berdasarkan hasil berbagai penelitian, jumlah anggota kelompok yang kurang dari 4 orang tidak efektif karena dinamika kelompok menjadi kurang hidup. Sebaliknya jika jumlah klien melebihi 12 orang adalah terlalu besar untuk konseling karena terlalu berat dalam mengelola kelompok (Yalom, 1975).
Untuk menetapkan jumlah klien yang dapat berpartisispasi dalam konseling kelompok dapat ditetapkan berdasarkan kemampuan konselor dan pertimbangan efektivitas proses konseling. Jika jumlah klien dipandang besar dan membutuhkan pengelolaan yang lebih baik, konselor dapat dibantu oleh ko-konselor.
2. Homogenitas Kelompok
Sebagian konseling kelompok dibuat homogen dari segi jenis kelamin, jenis masalah dan gangguan, kelompok usia, dan sebagainya. Penentuan homogenitas keanggotaan ini disesuaikan dengan keperluan dan kemampuan konselor dalam mengelola konseling kelompok (Kaplan dan Sadock, 1971).
3. Sifat Kelompok
Sifat kelompok dapat terbuka dan tertutup. Terbuka jika pada suatu saat dapat menerima anggota baru, dan dikatakan tertutup jika keanggotaanya tidak memungkinkan adanya anggota baru. Pertimbangan penggunaan keanggotaan terbuka dan tertutup bergantung kepada keperluan.
Kelompok terbuka maupun tertutup terdapat keuntungan dan kerugiannya. Sifat kelompok adalah terbuka maka setiap saat kelompok dapat menerima anggota baru sampai batas yang dianggap cukup. Namun demikian adanya anggota baru dalam kelompok akan menyulitkan pembentukan kohesivitas anggota kelompok.
Konseling kelompok yang menerapkan anggota tetap dapat lebih mudah membentuk dan memelihara kohensivitasnya. Tetapi jika terdapat anggota kelompok yang keluar, dengan sistem keanggotaan demikian tidak dapat ditambahkan lagi dan harus menjalankan konseling berapa pun jumlah anggotanya.
4. Waktu Pelaksanaan
Lama waktu penyelenggaraan konseling kelompok sangat bergantung kepada kompleksitas permasalahan yang dihadapi kelompok. Secara umum konseling kelompok yang bersifat jangka pendek (short term group counseling) membutuhkan waktu pertemuan antara 8 samapi 20 pertemuan, dengan frekuensi pertemuan antara satu sampai tiga kali dalam seminggunya, dan durasinya antara 60 sampai 90 menit setiap pertemuan.
Durasi pertemuan konseling kelompok pada prinsipnya sangat ditentukan oleh situasi dan kondisi anggota kelompok. Konseling tidak dapat disesesaikan dengan memperpanjang durasi pertemuan, tetapi pada proses pembelajaran selama proses konseling.
Konseling kelompok umumnya diselenggarakan satu hingga dua kali dalam seminggu. Penyelenggaraanya dengan interval yang lebih sering akan mengurangi penyerapan dari informasi dan umpan balik yang didapatkan selama proses konseling. Jika terlalu jarang, misalnya satu dalam dua minggu, banyak informasi dan umpan balik yang dapat dilupakan.
F. Tahapan Konseling Kelompok
Konseling kelompok dilaksanakan secara bertahap terdapat enam tahap dalam konseling kelompok, yaitu:
1. Pra konseling: pembentukan kelompok.
Tahap ini merupakan tahap persiapan konseling kelompok. Pada tahap ini terutama pembentukan kelompok, yang dilakukan dengan seleksi anggota dan menawarkan program kepada calon peserta konseling sekaligus membangun harapan kepada calon peserta.
2. Tahap 1: tahap permulaan (Orientasi dan eksplorasi)
Pada tahap ini mulai menentukan struktur kelompok, mengeksplorasi harapan anggota, anggota mulai belajar fungsi kelompok, sekaligus mulai menegaskan tujuan kelompok.
3. Tahap 2: tahap transisi
Pada tahap ini diharapkan masalah yang dihadapi masing-masing klien dirumuskan dan diketahui apa sebab-sebabnya. Anggota kelompok mulai terbuka, tetapi sering terjadi pada fase ini justru terjadi kecemasan, resistensi, konflik, dan bahkan ambivalensi tentang keanggotaannya dalam kelompok atau enggan jika harus membuka diri.
4. Tahap 3: tahap kerja-kohesi dan produktivitas
Jika masalah yang dihadapi oleh masing-masing anggota kelompok diketahui, langkah berikutnya adalah menyusun rencana-rencana tindakan. Penyusunan tindakan ini disebut pula produktivitas. Kegiatan konseling kelompok terjadi yang ditandai dengan membuka diri lebih besar, menghilangkan defensifnya, terjadinya konfrontasi antar anggota kelompok, modeling, belajar perilaku baru, terjadi tranferensi, kohesifitas mulai terbentuk, mulai belajar bertanggung jawab, tidak lagi mengalami kebingungan.
5. Tahap 4: tahap akhir (Konsolidasi dan terminasi)
Anggota kelompok mulai mencoba melakukan perubahan-perubahan tingkah laku dalam kelompok. Setiap anggota kelompok memberi umpan balik terhadap yang dilakukan oleh anggota yang lain. Umpan balik ini sangat berguna untuk perbaikan (jika diperlukan) dan dilanjutkan dan diterapkan dalam kehidupan klien jika dipandang telah memadai. Karena itu implementasi ini berarti melakukan pelatihan dan perubahan dalam skala yang terbatas.
6. Setelah konseling: Tindak lanjut dan evaluasi
setelah berselang beberapa waktu, konseling kelompok perlu dievaluasi. Tindak lanjut dilakukan jika ternyata ada kendala-kendala dalam pelaksanaan di lapangan. Mungkin diperlukan upaya perbaikan terhadap rencana-rencana semula atau perbaikan terhadap cara pelaksanaannya.
G. Konselor, Ko-Konselor, dan Klien
Dalam proses konseling kelompok ada beberapa pihak yang terlibat,
1. Konselor
Konselor dalam konseling kelompok berperan sebagai pemimpin kelompok. Tugas konelor dalam pemimpin kelompok adalah melakukan pemeliharaan, pemrosesan, penyaluran dan arahan. Sekalipun tuga utama mereka adalah melakukan pemeliharaan, pemrosesan, penyaluran dan arahan, tetapi cara penerapannya perlu mempertimbangkan situasinya.
2. Ko-Konselor
Adalah orang yang membantu konselor menjalankan perannya sebagai pimpinan kelompok. Ko-konselor ini jika ada harus berperan secara tepat. Kesalahan peran dapat menghambat proses konseling. Ko-konselor harus dapat bekerja sama dengan konselor untuk kepentingan klien.
3. Klien
Klien adalah anggota kelompok. Anggota kelompok pada dasarnya sebagai agen penolong bagi anggota yang lain. Peran anggota kelompok adalah sebagai berikut:
a. Membantu terbinanya suasana keakraban dalam hubungan antar anggota kelompok.
b. Mencurahkan segenap perasaan dan melibatkan diri dalam kegiatan kelompok.
c. Berusaha agar apa yang dilakukannya itu membantu tercapainya tujuan bersama.
d. Membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya.
e. Berusaha secara aktif ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok.
f. Berkomunikasi secara terbuka.
g. Berusaha membantu anggota lain.
h. Memberi kesempatan kepada anggota lain untuk menjalankan perannya.
i. Menyadari pentingnya kegiatan kelompok.
Kelangsungan masing-masing pihak dapat menjalankan perannya dengan baik, dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya: harapan dan kesediaan mengikuti program, merasa ada manfaat atau hasil yang diperoleh pada sesi-sesi yang dilalui, ada kemampuan individu dalam keterlibatannya di kelompok. Kemampuan konseling juga dapat mempengaruhi apakah anggota kelompok berperan secara baik atau tidak.
H. Proses Kelompok dan Perilaku Anggota
Proses kelompok dimaksudkan sebagai gambaran tentang interaksi yang terjadi dan teramati di antara anggota dalam aktivitas konseling kelompok. Sejalan dengan tahapan-tahapannya, konseling kelompok diharapkan dapat tumbuh dan berkembang terutama dari segi interaksi anggota satu sama lainnya. Biasanya dalam proses kelompok secara bertahap akan terjadi kohesivitas, partisipasi, interaksi interpersonal di antara anggota. Dalam konseling kelompok proses-proses tersebut terjadi kalau terbentuk saling percaya di antara mereka berkat iklim yang dibangun oleh konselor.
I. Interaksi dalam Kelompok
Interaksi dalam kelompok sebenarnya sangat beragam polanya. Interaksi dapat terjadi apabila seorang memberi perhatian pada anggota kelompok, seorang anggota perhatian pada seorang anggota kelompok lain, setiap anggota kelompok saling memberi perhatian, dan sebagainya.
Dalam konseling kelompok yang dikembangkan adalah dinamika di mana konselor memberi perhatian kepada semua kliennya, demikian pula setiap anggota kelompok saling memberi perhatian satu sama lain. Dengan demikian pola hubungan yang diciptakan adalah hubungan yang setara sesama klien dan konselornya membantu dalam mengelola dinamika kelompok.

Senin, 16 Desember 2013

Saat menghadiri pemakaman Nelson Mandela, Barack Obama sempat jadi sorotan publik. Bagaimana tidak, Presiden Amerika Serikat ini malah memotret dirinya sendiri.
Lihat saja foto yang diabadikan oleh AFP ini. Saat yang lain mengikuti prosesi pemakaman dengan khidmat, dia malah selfie (foto diri) bersama Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Perdana Menteri Denmark Helle Thorning Schmidt.
Obama dan petinggi kerajaan lainnya @ AFPObama dan petinggi kerajaan lainnya @ AFP
Perdana Menteri Denmark memegang kamera dan mengabadikan kebersamaan itu. Moment unik ini pun berhasil diabadikan dengan apik oleh fotografer Roberto Schmidt yang saat itu sedang meliput pemakaman Nelson.
Sementara itu, istri Barack lebih memilih menyaksikan apa yang terjadi selama prosesi pemakaman. Michele Obama sama sekali tidak tergoda melakukan aksi narsis seperti suaminya.
Beredarnya foto ini sontak membuat dunia maya heboh. Banyak pihak yang menjadikannya sebagai lelucon lantaran tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan para petinggi negara-negara maju itu.
Intisari-Online.com - Kesukesan dalam berkarier tidak hanya dimiliki oleh mereka yang pandai berkomunikasi, mereka yang pendiam pun sebenarnya memiliki peluang yang sama.
Coba saja tiga pilihan yang ditawarkan Career Expert, Donna Turner berikut ini.
Pilihan 1: Stay di Zona Nyaman
Mengambil zona aman dan nyaman, yakni menghindari pekerjaan yang ada peluang berinteraksi tatap muka dengan orang baru maupun publik yang baru Anda kenal.
Dan memilih area kerja yang lebih dominan di kegiatan mengonsep, membuat strategi, memberi konsultasi dan umpan balik dari balik layar.
Misalnya sebagai camera person, script writer, pembuat film, pekerja film, analis media, media planner, penulis.

Pilihan 2: 50-50
Mengambil zona tengah, yakni yang peluangnya 50:50, antara bekerja “di balik layar” dengan bertatap muka dengan publik. Misalnya sebagai penyiar radio, pengelola komunitas, konsultan komunikasi negosiasi, editor, konsultan multimedia, konsultan manajemen media.
Profesi ini memungkinkan Anda berinteraksi dengan klien-klien maupun pihak-pihak yang berkepentingan dengan Anda, yang sifatnya lebih bisa direncanakan jauh-jauh hari. Lebih bisa Anda antisipasikan bahan pembicaraan yang akan disampaikan, lebih bisa ditelusuri lebih dulu siapa saja pihak yang akan Anda temui.
Sehingga Anda tidak perlu terlalu grogi saat berhadapan dengan mereka. Profesi ini juga memungkinkan Anda fokus pada tugas yang Anda tangani, yang tidak menuntut selalu berinteraksi dengan orang baru.

Pilihan 3: Tinggalkan Zona Nyaman
Tembus zona nyaman Anda dengan mengikuti konseling atau terapi terlebih dulu, bila ketidaknyamanan Anda berinteraksi dengan orang lain lebih dikarenakan oleh faktor sikap atau psikologis.
Anda bisa juga mengikuti kelas-kelas workshop maupun pelatihan pengembangan keterampilan komunikasi seperti public speaking, etiket pergaulan, komunikasi efektif.
Untuk pembentukan habituasi dan meningkatkan motivasi diri secara konsisten, bergabunglah dalam komunitas hobi maupun komunitas publik lainnya, yang memungkinkan Anda berkenalan dan berinteraksi dengan orang-orang baru, secara lebih leluasa dan nyaman.

Bila langkah-langkah ini sudah Anda lakukan, niscaya Anda akan lebih pede memilih profesi yang sebenarnya selama ini merupakan minat terpendam, bakat dan passion Anda.
Demikian beberapa saran, selamat mengidentifikasi akar permasalahan dan membuat langkah strategis untuk dapat memilih kerja, berprofesi, berkarier sesuai impian. (Precilia Meirisa / chicmagz.com)
Tahun-tahun awal kehidupan seorang anak ditandai dengan peristiwa-peristiwa yang bersifat fisik, misalnya kehausan dan kelaparan serta peristiwa-peristiwa yang bersifat interpersonal, seperti ditinggalkan di rumah dengan pengasuh atau babysitter, yang dapat menyebabkan timbulnya emosi negatif. Kemampuan dalam mengelola emosi negatif ini sangat penting bagi pencapaian tugas-tugas perkembangan  dan berkaitan dengan kemampuan kognitif dan kompetensi sosial (Garner dan Landry, 1994; Lewis, Alessandri dan Sullivan, 1994 dalam Pamela W., 1995:417). Perilaku awal emosi dapat digunakan untuk memprediksi perkembangan kemampuan afektif (Cicchetti, Ganiban dan Barnet, 1991 dalam Pamela W., 1995:417). Keluarga dengan orang tua yang memiliki emosi positif cenderung memiliki anak dengan perkembangan emosi yang juga positif, demikian pula sebaliknya (Pamela W., 1995:422).
Emosi memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan anak, baik pada usia prasekolah maupun pada tahap-tahap perkembangan selanjutnya, karena memiliki pengaruh terhadap perilaku anak. Woolfson, 2005:8 menyebutkan bahwa anak memiliki kebutuhan emosional, yaitu :
a) Dicintai, b) Dihargai, c)  Merasa aman, c) Merasa kompeten, d) Mengoptimalkan kompetensi
Apabila kebutuhan emosi ini dapat dipenuhi akan meningkatkan kemampuan anak dalam mengelola emosi, terutama yang bersifat negatif.
Anak mengkomunikasikan emosi melalui verbal, gerakan dan bahasa tubuh. Bahasa tubuh ini perlu kita cermati karena bersifat spontan dan seringkali dilakukan tanpa sadar. Dengan memahami bahasa tubuh inilah kita dapat memahami pikiran, ide, tingkah laku serta perasaan anak. Bahasa tubuh yang dapat diamati antara lain :
a) Ekspresi wajah, b) Napas, c) Ruang gerak, d) Pergerakan tangan dan lengan
Hurlocka, 1978:211 menyebutkan bahwa emosi mempengaruhi penyesuaian pribadi sosial dan anak. Pengaruh tersebut antara lain tampak dari peranan emosi sebagai berikut.
  • Emosi menambah rasa nikmat bagi pengalaman sehari-hari. Salah satu bentuk emosi adalah luapan perasaan, misalnya kegembiraan, ketakutan ataupun kecemasan. Luapan ini menimbulkan kenikmatan tersendiri dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan memberikan pengalaman tersendiri bagi anak yang cukup bervariasi untuk memperluas wawasannya.
  • Emosi menyiapkan tubuh untuk melakukan tindakan. Emosi dapat mempengaruhi keseimbangan dalam tubuh, terutama emosi yang muncul sangat kuat, sebagai contoh kemarahan yang cukup besar. Hal ini memunculkan aktivitas persiapan bagi tubuh untuk bertindak, yaitu hal-hal yang akan dilakukan ketika tibul amarah. Apabila persiapan ini ternyata tidak berguna, akan dapat menyebabkan timbulnya rasa gelisah, tidak nyaman, atau amarah yang justru terpendam dalam diri anak.
  • Ketegangan emosi mengganggu keterampilan motorik. Emosi yang memuncak mengganggu kemampuan motorik anak. Anak yang terlalu tegang akan memiliki gerakan yang kurang terarah, dan apabila ini berlangsung lama dapat mengganggu keterampilan motorik anak.
  • Emosi merupakan bentuk komunikasi. Perubahan mimik wajah, bahasa tubuh, suara, dan sebagainya merupakan alat komunikasi yang dapat digunakan untuk menyatakan perasaan dan pikiran (komunikasi non verbal).
  • Emosi mengganggu aktivitas mental. Kegiatan mental, seperti berpikir, berkonsentrasi, belajar, sangat dipengaruhi oleh kestabilan emosi. Oleh karena itu, pada anak-anak yang mengalami gangguan dalam perkembangan emosi dapat mengganggu aktivitas mentalnya.
  • Emosi merupakan sumber penilaian diri dan sosial. Pengelolaan emosi oleh anak sangat mempengaruhi perlakuan orang dewasa terhadap anak, dan ini menjadi dasar bagi anak dalam menilai dirinya sendiri.
  • Emosi mewarnai pandangan anak terhadap kehidupan. Peran-peran anak dalam aktivitas sosial, seperti keluarga, sekolah, masyarakat, sangat dipengaruhi oleh perkembangan emosi mereka, seperti rasa percaya diri, rasa aman, atau rasa takut.
  • Emosi mempengaruhi interaksi sosial. Kematangan emosi anak mempengaruhi cara anak berinteraksi dengan lingkungannya. Di lain pihak, emosi juga mengajarkan kepada anak cara berperilaku sehingga sesuai dengan ukuran dan tuntutan lingkungan sosial.
  • Emosi memperlihatkan kesannya pada ekspresi wajah. Perubahan emosi anak biasanya ditampilkan pada ekspresi wajahnya, misalnya tersenyum, murung atau cemberut. Ekspresi wajah ini akan mempengaruhi penerimaan sosial terhadap anak.
  • Emosi mempengaruhi suasana psikologis. Emosi mempengaruhi perilaku anak yang ditunjukkan kepada lingkungan (covert behavior). Perilaku ini mendorong lingkungan untuk memberikan umpan balik. Apabila anak menunjukkan perilaku yang kurang menyenangkan, dia akan menerima respon yang kurang menyenangkan pula, sehingga anak akan merasa tidak dicintai atau diabaikan.
  • Reaksi emosional apabila diulang-ulang akan berkembang menjadi kebiasaan. Setiap ekspresi emosi yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan, dan pada suatu titik tertentu akan sangat sulit diubah. Dengan demikian, anak perlu dibiasakan dengan mengulang-ulang perilaku yang bersifat positif, sehingga akan menjadi kebiasaan yang positif pula.

Pada usia prasekolah anak-anak belajar menguasai dan mengekspresikan emosi (Saarni, Mumme, dan Campos, 1998 dalam De Hart, 1992:348). Pada usia 6 tahun anak-anak memahami konsep emosi yang lebih kompleks, seperti kecemburuan, kebanggaan, kesedihan dan kehilangan (De Hart, 1992:348), tetapi anak-anak masih memiliki kesulitan di dalam menafsirkan emosi orang lain (Friend and Davis, 1993). Pada tahapan ini anak memerlukan pengalaman pengaturan emosi, yang mencakup :
·           Kapasitas untuk mengontrol dan mengarahkan ekspresi emocional
·           Menjaga perilaku yang terorganisir ketika munculnya emosi-emosi yang kuat dan untuk dibimbing oleh pengalaman emosional
Seluruh kapasitas ini berkembang secara signifikan selama masa prasekolah dan beberapa diantaranya tampak dari meningkatnya kemampuan anak dalam mentoleransi frustasi
Salah satu aspek yang penting dalam pengaturan emosional adalah kemampuan untuk mentoleransi frustasi ini, yang merupakan upaya anak untuk menghindari amarah dalam situasi frustasi yang membuat emosi tidak terkontrol dan perilaku menjadi tidak terorganisir. Kemampuan ini muncul mulai usia 2 tahun dan berkembang pesat selama masa prasekolah (Brigdes dan Grolnick JK, 1995, Eisenberg, dkk, 1994, Van Lieshout, 1975). Ketika menemui situasi yang menimbulkan frustasi, misalnya alat-alat permainan menarik yang tidak dapat dijangkau, anak-anak usia prasekolah yang lebih tua tampak tidak terlalu marah dibandingkan anak-anak yang lebih muda. Mereka tampak masih fokus pada masalah dibandingkan rasa frustasinya dan mereka membuat respon konstruktif misalnya mencari bantuan. Dalam perkembangan emosi, anak mengalami perkembangan dalam resiliensi. Riset menunjukkan bahwa resiliensi bukan bawaan dari lahir. Ini lebih merupakan kapasitas untuk mengembangkan lingkungan yang suportif (Masten, 2001 dalam DeHart, 2004 : 363). Beberapa anak dapat melakukan coping lebih baik terhadap stres, tetapi hal ini cenderung berkaitan dengan sejarah perlekatan yang aman dan dukungan orangtua (Pianta, Egeland and Sroufe, 1990 dalam DeHart, 2004:363).
Kapasitas yang baru muncul ini berpengaruh terhadap hubungan dengan orang tua. Menolak permintaan orang tua dan tanggapan-tanggapan pasif terhadap permintaan orang tua menurun pada usia 2 dan 5 tahun (Kuczzynskl dan Kochanska, 1990). Anak-anak tampak meningkat kemampuannya dalam mentoleransi frustasi ketika diminta melakukan sesuatu yang berlawanan dengan keinginan mereka. Mereka juga mulai belajar bagaimana menegosiasikan konflik tersebut (Klimes-Dougan dan Kopp, 1999).
Salah satu bentuk untuk mentoleransi frustasi adalah menunda gratifikasi atau pemebuhan keinginan, misalnya permen, meskipun ada keinginan. Dengan adanya dukungan dari orang dewasa anak-anak usia prasekolah dapat mengurangi frustasinya dalam menunda gratifikasi ini. Hal ini sebenarnya tidak mudah untuk mereka, tetapi sebagian besar anak mampu melakukan. Kemampuan ini akan berkembang pada usia kanak-kanak pertengahan hingga pada saat anak mampu melakukannya tanpa adanya bantuan dari orang dewasa (Mischel, Shoda, dan Rodriguez, 1989).
Para peneliti masih belum yakin mengapa toleransi terhadap frustasi dapat berkembang dengan pesat selama masa prasekolah. Anak-anak kemungkinan tampak mampu menekan perasaannya pada satu level tertentu sehingga mereka terlihat tidak begitu marah (Maccoby, 1980). Pada saat yang bersamaan, anak-anak juga belajar mengenai strategi untuk membantu mereka membatasi tekanan yang menyebabkan frustasi.
Kemampuan untuk menunjukkan kontrol diri terhadap emosi akan menjadi anugerah yang dilematis bagi anak apabila anak tidak mampu menyesuaikan levelnya terhadap situasi tertentu. Pada beberapa situasi anak diharapkan mampu menahan diri, tetapi pada situasi yang lain anak-anak dapat berperilaku impulsif dan ekspresif seperti yang mereka inginkan. Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap berbagai situasi disebut ego-resiliensi, karena ego menunjukkan kapasitasnya untuk fleksibel dan mampu mengontrol ekspresi impulsif dan perasaan (Block dan Block, 1980). Seperti pada anak-anak lain yang memiliki ego resiliensi, maka dapat menjadi anak yang ekpresif , spontan pada beberapa situasi tetapi dia juga mampu menahan diri dan berperilaku disiplin pada keadaan lainnya (Sroufe, 1995 dalam DeHart, 2004:363).
Oleh karena itulah, sangat penting bagi orang dewasa, terutama yang dalam kesehariannya dekat dengan anak, diantaranya pamong PAUD dan para pemerhati anak untuk selalu berupaya membangun kapasitas emosional anak sehingga tidak akan menjadi hambatan kelak ketika anak dewasa. Kapasitas emosional ini merupakan dasar bagi penyesuaian dalam kehidupan anak selanjutnya.[*]
HAMBATAN DALAM PERKEMBANGAN FISIK-MOTORIK ANAK
Fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan.Berkaitan dengan perkembangan fisik ini Kuhlen dan Thompson mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu : sistem syaraf yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi. otot-oto yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik. kelenjar endokrin, yang menyebabkan munculnya tingkah laku bary struktur fisik atau tubuh yang meliputi tinggi, berat, dan proporsi Aspek fisik yang paling penting adalah otak sebagai pusat atau sentral perkembangan dan fungsi perkembangan.otak mempunyai pengruh yang sangat menentukan bagi perkembangan individu lainnya. Perkembangan fisik sangat berkaitan erat dengan perkembangan motorik anak.Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf , otot, dan otak. Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan motorik halus.Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot –otot besar,Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagai anggota tubuh tertentu yang dipengaruhi oleh kesempatan belajar dan berlatih
Study mengenai perkembangan fisik menyatakan bahwa bahaya paling besar adalah terhadap kehadupan psikologis seseorang Sakit Pengaruh penyakit, terlepas dari apakah penyebab eisik atau psikologis , namun suatu hal cukup jelas bahwa apapun bentuk gangguan itu akan mempengaruhi perkembangan , prilaku, pembentukan kepribadiaan, dan sikap anak. Penyakit tersebut dapat bersifat menahun , atau singkat. Seberapa besar dan dan parah pengaruhnya pada si anak sebagian besar tergantung dari si9kap mental si anak sendiri. Pengaruh penyakit yang umum
a.Pertumbuhan dan perkembangan tubuh . Jika anak mengalami penyakit yang lama dan menahun maka pertumbuhan tubuhnya akan terhambat. Lebih-lebih bila sakitnya terjadi pada saat pertumbuhan berjalan cepat. Dan hamper semua penyakit menyebabkan penurunan berat badan .
b.Pengaruh lanjutan sakit Karena sakit, Pertumbuhan fisik anak jadi terhambat.
c.Emosi meningkat. Sakit menyebabkan kegoncangan terhadap keseimbangan. Anak yang sedang sakit hamper selalu memperlihatkan sikap yang mudah tersinggung, mudah cemas, dan pemarah.
d.Prilaku sosial . Anak yang sering sakit lama, sering kali menjadi kikukk dan canggung untuk bermain kembali. Apabila sering dimanja anak akan sering mengembangkan sikap yang tidak sehat terhadap dirinya
e. Keterbatasan untuk bergerak .
f. Tugas sekolah yang tertinggal .
g. Kesulitan prilaku. Bila sakit ia suka rewel dan menuntut perhatian, Ada kemungkinan menjadikan ia sebagai anak yang agresif dan banyak menuntut. h. Gangguan kepribadiaan. Ini biasa terjadi pada anak yang menderita penyakit menahun, misalnya diabetes atau anak yang sakitnya sebentar tapi parah. Gizi Akibat kurang gizi : pembentukkan tubuh. Anak yang masa balitanya kekurangan makanan bergizi, biasanya akan menghadapi kelambatan pertumbuhan, semakin berat kekurangan gizi tersebut semakin nyata pula kecendrungan bnentuk tubuhnya. b.Besar kecilnya tenaga Anak yang terlalu kekurangan gizi akan cendrung menjadi minat terhadap kegiatan sekitarnya. Saat bermain lebih memilih mainan yang tidak anak yang lemah dan kurang melelahkan c.Kesehatan Anak yang kekurangan gizi lebih sering sakit pada masa kanak- kanaknya d.Keadaan emosionalitas . Dirinya berbeda dari temannya karena dia telah mengalami sendiri bagaimana sikap dan pendapat orang lain terhadap bentuk tubuhnya. Reaksi yang sering muncul terhadap anak-anak dengan penyimpangan bentuk tubuh *. Anak-anak yang terlalu gemuk dan berat tubuh melebihi berat normal, akan mengalami hambatan mengikuti aturan main. *. Anak-anak yang terlalu tinggi atau gemuk bila dibandingkan dengan temannya seringkali menampilkan prilaku yang canggung dan lamban. Hal ini membuat mereka selalu berhati-hati dan terlalu sadarakan kekurangan dirinya *.Anak dengan penyimpangan bentuk tubuh yang melebihi normal atau pun selalu rendah membuatnya cendrung menderita penyakit, misalnya diabetes, tekanan darah tinggi, atau gangguan jantung *. Sikap social terhadap bentuk tubuh anak dapat meninggalkan luka psikologis yang sangat membekas dalam diri anak, Sehingga mempunyai pandangan yang kurang wajar terhadap dirinya. *.Bentuk yang nyata berkelainan memang akan menimbulkan rasa penolakan diri teman-temannya C. Hambatan Dalam Perkembangan Motorik Anak Perkembangan motorik yang terhambat berarti perkembangan motorik yang berada di bawah normal umur anak.Akibatnya, pada umur tertentu anak tidak menguasai tugas perkembangan yang diharapkan kelompok sisialnya. Banyak penyebab terlambatnya perkembangan motorik , sebagian dapat dikendalikan dan sebagian tidak. Hal itu mungkin timbul dari kerusakan otak pada waktu lahir atau kondisi pralahir yang tidak menguntungkan, Akan tetapi, keterlambatan lebih sering disebabkan kurangnya keterampilan motorik Proses perkembangan seorang anak tidak berarti bertambah besar atau bertambah usia saja, akan tetapi juga bertambah berat., pandai dan terampil. Aktifitas bermainnya pun bertambah, melalui bermain anak dapat belajar, untuk melakukan aktivitas bermain ia perlu gerak, karena itu kemampuan gerak merupakan aspek penting yang merupakan pendukung bagi perkembangan anak secara keseluruhan. Apabila anak mengalami hambatan dalam perkembangan motoriknya, akan mengakibatkan anak akan mengalami keterlambatan dalam melakukan gerak dan juga perkembangan motorik anak akan menghambat akses pada sumber-sumber eksternal serta regulasi emosi dan kecerdasan. Pemakai tangan kiri Pemakai tangan kiri merupakan bahaya potensial bagi penyesuaian social dan pribadi yang baik. Hal ini jelas dalam 2 kondisi : 1.Sebagai pemakai kiri anak menyadari bahwa mereka berbeda dan jika mereka merasa lebih rendah hal itu akan mempengaruhi sikap mereka terhadap diri sendiri dan pada gilirannya mempengaruhi sikap terhadap prilaku mereka. 2.Penggunaan tangan kiri menjadi bahaya yang nyata bagi penyesuaian social dan pribadi yang baik jika hal itu menghambat anak untuk mempelajari keterampilan dan menghasilkan keterampilan yang menurut keyakinannya berada dibawah kemampuannya. Luas dan lambatnya krugian psikologis yang timbul dari upaya mengubah anak dari pemakai tangan kiri kepemakai tangan kanan akan berbeda-beda menurut kondisi: Tingkat motivasi anak untuk melakukan perubahan. Umur anak pada waktu berusaha berubah menjadi pemakai tangan kanan. Apakah anak didorong atau dipaksa untuk melakukan perubahan. Kepribadian membentuk anak. Kepribadian mempengaruhi dampak yang ditimbulkan oleh perubahan pengguna tangan.Sebagai contoh, anak yang gugup dan cepat tersinggung mungkin akan sangat menderita dan kerugiannya berlangsung lama.Sedangkan anak yang santai mungkian tidak menderita sedikitpun Hildreth telah mengemukakan bberapa kondisi untuk dapat melakuka perubahan penggunaan tangan kiri ketangan kanan dengan kerugian psikologis yang minim bagi anak, sebagai berikut : 1 Anak di bawah 6 tahun 2. anak yang menggunakan kedua belah tangan bergantian 3. Indeks pengguna tangan bilateral 4. Periode coba menunjukkan tidak ada kesulitan yang tetap 5.Anak setuju untuk mengubah nya 6. Kecerdasan anka-anak diatas rata-rsata . D. Hambatan atau Permasalahan dalam Perkembangan Fisik-Motorik Pola perubahan yang cenderung berbeda pada setiap anak menyebabkan pertumbuhan fisik anak-anak tampak berbeda satu sama lainnya. Prtumbuhan fisik yang dialami anak akan mempengaruhi proses perkembangan motoriknya. Perkembangan motorik berarti perkembangan pengendalian jasmaiah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot-otot yang terkoordinasi. Sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan bergerak dan kegiatan bergerak ini akan sangat menggunakan otot-otot yang ada pada tubuhnya. Menurut Rusda Koto dan Sri Maryati ( 1994 ) dalam perkembangannya mungkin ditemukan beberapa hambatan pada anak diantaranya adalah : a. Gangguan fungsi pancaindra Gangguan fungsi pada pancaindra yang banyak menimbulkan masalah pada anak adalah gangguan pada indra penglihatan dan pendengaran. Kekurangan daya penglihatan maupun mendengar dapat di ketahui bila derajat penyimpangannya sedah cukup besar dari yang normal. Sebaliknya, apabila taraf kekurangannya masih ringan, cukup sulit untuk mendeteksi kesulitan yang di hadapi anak. b. Cacat tubuh Cacat tubuh umumnya terdapat pada tangan, kaki atau wajah. Apabila seorang anak mengalami cacat tubuh pada tangan atau kaki maka perkembangannya akan mengalami gangguan karena pada masa usia dini kemampuan tubuh sangat penting untuk menunjang perkembangannya. c. Kegemukan ( obesitas ) Kegemukan sering kita temui pada anak usia dini, dan orang tua kadang kala membiarkan atau bahkan senang dengan kegemukan anak karena anak tampak lucu dan menggemaskan. Kegemukan anak sejak dini perlu diwaspadai karena berbahaya bagi perkembangan selanjutnya. Kegemukan dapat membahyakan kesehatan yang dapat berakibat penyakit jantung, diabetes ( kencing manis ), dan tekanan darah tinggi. d. Gangguan gerakan peniruan ( stereotipik ) Gejala yang tampak pada dari gangguan stereotipik adalah gerakan motorik kasar ( gross motor movement ) yang tidak wajar. Gerakan yang disebabkan karena kebiasaan tetapi mempunyai akibat yang tidak baik

Rabu, 11 Desember 2013


scarecrow 2013 dvdrip 700mb sidofi o7Plcpp Scarecrow (2013) DVDRip 700MB

Download Film Scarecrow
Genre: Horror, Sci-Fi
Year: 2013
Rating: 4.2 (162 votes)
Runtime: N/A
Director: Sheldon Wilson
Uploader : SDF @ sidofi.com
Cast: Lacey Chabert, Richard Harmon, Robin Dunne, Nicole Muñoz
Plot:
For generations, it was an urban legend that lived in the nightmares of children. Now, the season to…



  • 1
     
    Share




SCREENSHOT MOVIE


http://i.imgur.com/jmWa6cW.jpg


—Single Shortlink bc—

putlocker – Full Speed

http://bc.vc/W1Phjg

megafiles – Full Speed

http://bc.vc/WfLCgD

180upload – Full Speed

http://bc.vc/7jI8rH

uploaded

http://bc.vc/551fvb










” Like and Share Scarecrow “


[Download Subtitle Indonesia]
 

Copyright 2010 Bimbingan dan Konseling.

Theme by blogger.com.
Distributed by: best template blogger seo friendly best blogger game template | best japanese vpn cheap vpn gateway